Please wait...

Merawat Kebhinekaan

ngacapruk

By Administrator on 12 Feb 2018 Ngacapruk

Merawat Kebhinekaan


“Kang, apakah benar konsep Bhineka Tunggal Ika yang jadi prinsip kebangsaan Indonesia, akarnya bisa ditelusuri sampai pada zaman Kerajaan Majapahit? Apa yang menjadi dasarnya?” Tanya seorang sahabat dalam obrolan sore hari.

Sebagai sebuah konsep kebhinekaan, Majapahit memang unik. Hanya di Majapahit-lah terjadi perpaduan yang harmonis antara Shiwa-Budha. Kondisi ini berbeda dengan di India, tempat kedua agama itu berasal.

Di India, kedua agama ini terlibat dalam perdebatan dan pertentangan yang hebat, bahkan menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah India. Sebaliknya, di Majapahit kedua agama ini hidup berdampingan dan mencapai puncak harmonisasi dengan lahirnya agama baru, yakni Shiwa-Buddha.

Di Majapahit, kedua agama ini saling bekerjasama untuk mengisi kekosongan rohani masyarakatnya. Sejumlah kesamaan sistem ajaran antara Shiwa dan Buddha diadaptasi dan disusun kembali sesuai kearifan lokal masyarakatnya. Proses perpaduan dan restrukturisasi sungguh-sungguh menjadi karya keagamaan yang tiada duanya, bahkan tidak pernah terjadi di negeri asalnya, India.

Pada tataran praktik, Shiwa dan Buddha tetaplah dapat dibedakan. Namun ketika perbedaan ini diabstraksi pada tataran teologi, metafisika, dan mistikal keduanya hanyalah sebutan yang berbeda dari satu hakikat yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa.

Itulah sebabnya Para Pendiri Bangsa ini mengambil konsep Bhineka Tunggal Ika sebagai ruh dari negara ini. Dan kita hanya ditunggaskan merawatnya. Sebab, tanpa pintar merawatnya, negara ini akan hancur.

Mungkin benar sebuah pendapat tentang cara menghancurkan sebuah bangsa. Pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarahnya, sehingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Dan ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, dengan mengatakan leluhurnya itu bodoh dan primitif. Salam. (#catatanHK, ngacapruk siang).