Please wait...

Literasi Islam

By Administrator on 12 Feb 2018 Ngacapruk

Literasi Islam


“Mengumpulkan orang demo memang lebih mudah, berbeda dengan mengajak orang ke perpustakaan atau mengembangkan ilmu pengetahuan.” Begitu kata Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadyah

Haedar mengutip hadis nabi Muhammad tentang banyaknya jumlah umat Islam, tetapi seperti buih. Menjadi mayoritas secara jumlah tetapi belum mayoritas secara kualitas. Padahal yang disukai Allah adalah mukmin yang kuat. Kuat dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan, teknologi, maupun ekonomi-sosial-pilitik.

Sejarah perabadan Islam pun telah memberi banyak pelajaran bahwa kekuatan sebuah peradaban sangat tergantung pada kualitas manusianya. Saat Islam berjaya, manusia-manusia yang menjadi pendukungnya adalah jenis manusia unggul. Keunggulan Islam sebagai sebuah peradaban sangat ditopang oleh pribadi-pribadi unggul. Muhammad SAW adalah penggerak sekaligus poros dari kejayaan peradaban Islam. Dan manusia-manusia disekitar Rosul itu adalah jenis manusia yang tidak diragukan lagi kualitasnya, baik ahlak, perilaku, tingkat kesholehan, kepiawainnya berdagang, keahliannya berperang, keunggulannya dalam kepemimpinan, dan yang pasti ketauladannya dalam tingkah laku sehari-hari.

Dengan modal manusia-manusia unggul itu Islam berjaya sejak abad ke-7 sampai pertengahan abad ke-13. Kekuasaan Islam membentang dari jazirah Arab sampai ke Eropa di belahan barat. Dari Jazirah Arab sampai Asia di belahan timur. Dari Jazirah Arab sampai ke Afrika di belahan selatan. Islam juga berjaya dan jejaknya terlihat sampai ke negara-negara Balkan di belahan utara. Kekuasaan Islam dimulai sejak Nabi Muhammad SAW mampu mendidik pengikutnya menjadi manusia-manusia berahlak mulia.

Pertanyaanya adalah bagaiamana menghasilkan manusia unggul itu, sehingga Islam mampu berjaya kembali? Kata seorang bijak, “Ada tiga pilar yang mesti dibangun untuk membangun sebuah peradaban, yaitu budaya baca, budaya diskusi, dan budaya tulis. Dan ketiga pilar itu ternyata berpusat pada dunia literasi. “ Artinya, untuk mampu membangun kembali kejayaan Islam, suka tidak suka mesti bermula dari kemampuan menghasilkan manusia-manusia yang melek literasi.

Tanpa didukung oleh manusia-manusia yang melek literasi, rasanya sangat sulit membangun kembali kejayaan Islam.Tanpa manusia-manusia unggul tidak mungkin lahir peradaban yang kuat, berkualitas, dan menghasilkan karya peradaban yang monumental. Sejarah telah membuktikan bahwa maju mundurnya sebuah peradaban sangat tergantung dari kualitas manusia pendukung peradaban tersebut. Dan itu adalah sebuah keniscayaan sejarah. Tabik (#catatanHK, ngacapruk enjing-enjing)