Please wait...

Kecerdasan Nurani

By Administrator on 12 Feb 2018 Ngacapruk

Kecerdasan Nurani


“Domba betina yang dipelihara disini banyak yang anaknya tiga. Malah ada yang empat. Jarang yang beranak satu. Dan anaknya sehat-sehat.” Begitu kata seorang peternak domba di sebuah kampung di Garut Selatan saat saya bertanya tentang hewan peliharaannya. Padahal sepengetahuan saya rata-rata domba akan beranak 1-2 ekor per tahun.

Saat saya tanya bagaimana cara memeliharanya, peternak itu menjelaskan: “Kami sebenarnya tidak melakukan hal yang istimewa. Kami hanya berupaya membawa domba-domba kami ke lapangan rumput yang luas setiap pagi, dan baru mengkandangkannya pada sore hari. Jadi seharian kami mengumbar domba untuk memilih makanan sendiri. Dan secara naluri, domba-domba akan memilih rumput terbaik yang akan dimakannya. Domba pun menjadi sehat, dan dari domba yang sehat akan lahir anak-anak domba yang sehat dan banyak.”

Saya sungguh tertegun. Itulah kearifan peternak. Sesuatu yang berbeda dengan nilai yang saya pelajari sebagai bagian dari masyarakat industri. Seumur hidup saya diajarkan untuk merekayasa hidup ini sesuai pikiran “bagaimana bisa selalu mendapatkan lebih”. Dan itu adalah antara untung-rugi juga imbalan-hukuman. Dan apa pun yang tidak “mempunyai nilai produksi” tidak akan memiliki apa-apa.

Peternak ini telah memberi kesadaran tentang fondasi kehidupan, yaitu keharmonisan sosial. Tentang adanya sebuah pengetahuan lain diatas pengetahuan yang saya miliki. Pengetahuan itu adalah hati nurani dan naluri keseimbangan sosial. Jika kita mempunyai kebijaksanaan dan kearifan, apa pun yang dilakukan akan memberi kemanfaatan.

“Kalau sudah ada niat yang benar dan juga usaha yang keras, yang akan melengkapinya adalah Allah.” Begitu pesan Rosululloh SAW. Peternak itu telah berusaha mencari ladang rumput terbaik dengan niat memberi makanan terbaik pada dombanya. Itulah kecerdasan nurani. Dan balasan atas kecerdasan nurani itu adalah anak-anak domba yang sehat dan banyak. Salam. (#catatanHK, ngacapruk pisan).