Please wait...

Generasi Gagap

Ngacapruk

By Administrator on 12 Feb 2018 Ngacapruk

Generasi Gagap


“Harusnya anak-anak kita diajarin untuk mampu memilih dan memilah mana berita hoax mana berita baik. Mereka harus dijauhkan dari informasi yang menyebarkan kebencian, caci maki, dan fitnah.” Begitu kata seorang teman dalam obrolan menjelang rapat.

Pendapat teman itu membuat saya teringat obrolan minggu lalu dengan seorang sahabat yang pakar semiotika. Bagi sahabat saya, berita hoax, informasi palsu, atau kabar yang tidak jelas sejatinya hidup subur dalam masyarakat yang tidak mampu membedakan mana yang nyata mana yang maya. Mana realitas mana yang sekedar imaji. Mereka mencampuradukan kenyataan dengan obrolan warung kopi. Dan media sosial memungkinkan tercampurnya dengan sempurna yang nyata dengan yang maya. Dan siapakah golongan masyarakat seperti itu?

Ternyata mereka bukan anak-anak kita. Dalam terminologi generasi digital, ternyata anak-anak kita yang berumur 25 tahun kebawah, adalah penghuni asli dunia digital (digital native). Mereka sejak lahir, berkembang, dan dibesarkan dalam alam digital. Mereka sejak kecil akrab dengan teknologi digital. Mereka terlatih untuk hidup dengan dunia maya. Dan generasi ini dibesarkan dalam alam reformasi yang serba boleh, terbuka, dan demokratis.

Justru generasi 35 tahun keatas sejatinya gagap menghadapi era digital itu. Itulah generasi orangtua dari anak-anak kita. Itulah generasi kita. Kita sejatinya kaum urban dalam era digital ini (digital urban). Atau bahkan mungkin kaum asing yang tersesat dalam dunia digital (digital stranger). Generasi yang dilatih untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Dan terutama dibesarkan dalam alam serba tertutup, serba tidak boleh, dan penuh kecurigaan. Alam Orde Baru.

Artinya, sebenarnya yang perlu dilatih untuk mampu memilih, memilah, dan mereproduksi mana hoax mana yang benar adalah generasi kita. Generasi digital urban, generasi digital stranger. Kaum ini mengalami culture shock yang luar biasa. Tiba-tiba saja dunia digital menyerbu kehidupannya. Dan banyak yang gagal paham dengan dunia digital. Dan ketika kebebasan tiba-tiba muncul, maka magma kecurigaan yang dipendam lama pun keluar. Dan saat sebuah berita muncul, mereka menganggap semua informasi penting, perlu ditampung, dan dibagi. Tanpa menyaringnya lebih dahulu.

Mungkin benar sebuah ungkapan, “Kita memang tidak bisa mengubah dunia. Namun, kita bisa mengubah diri kita sendiri.” Tua memang pasti, namun bijaksana butuh upaya. Tabik. (#catatanHK, ngacapruk pagi).